Nilai 3 yg Bagus…
June 28th, 2008 by aku-nisa“Kalian bukan gajah sirkus, kalian harus buktikan kalau kalian bukan gajah!”_Kepala Sekolah SMA ku_
Tepat di depan mukaku, tepat di hari yang aku kira paling menyedihkan, Bapak Kepsek mengulang-ulang kata tersebut. Tidak tahu dampaknya pada teman-temanku yang lain, tapi mungkin karena hari itu menyebalkan, atau karena aku berada di barisan paling depan, kata-kata itu masuk ke pikiranku, ke hatiku, ke manapun arahnya yg ditujukan oleh bapak kepsek ini.
Kata-kata itu adalah akhir dari ceritanya mengenai gajah sirkus besar yg tidak pernah mencoba untuk kabur, menuntut kebebasan, padahal dia hanya diikat dengan rantai rapuh yg tak seberapa dibandingkan kekuatannya. Mengapa? Ternyata, menurut bapak kepsek ini, gajah ini ditangkap waktu kecil, dia diikat dengan rantai yg sama dengan yang mengikatnya sekarang, dia mencoba melepaskan diri, tapi kekuatannya tidak membantunya sama sekali. Dia masih kecil. Gajah kecil yang belum besar.
Jadi, sampai sekarang, gajah kecil yang sudah besar itu tidak pernah mencoba lagi, karena dia punya bayangan kegagalan itu yg diukir sewaktu kecil. Gajah itu masih punya pikiran bahwa dia tidak akan mampu mematahkan rantai ini, rantai yang tidak mampu dipatahkannya sewaktu masih kecil. Si pawang gajah ini bukan manusia perkasa yg punya rantai yang kuat sekali yang tidak bisa dihancurkan gajah, tapi tentu saja, dia manusia yg pintar, yg bisa memenjarakan gajah dalam pikirannya sendiri.
Dia membuat si gajah memenjarakan diri sendiri, itu namanya penjara pikiran, teman-teman.!! cerdas ya si pawang gajah.
Akhir cerita gajah yg terpenjara dalam pikirannya sendiri itu mungkin yang menjadi awal semangatku, semangat untuk mengejar apa yang aku mau, sesuatu yang gagal aku dapatkan hari itu. Hari itu, seperti yang pertama aku katakan, agak menyebalkan dan terasa menyedihkan, karena itu adalah hari penolakanku, di ujian perguruan tinggi pertamaku, dan mungkin beberapa belenggu pikiran sudah mulai terpasang di kepalaku. Pikiran-pikiran yg mengatakan bahwa aku tidak bisa, tidak akan bisa, dan masih banyak kegagalan yang akan aku temui.
Untunglah, dan terima kasih sekali, Bapak kepsek itu menyadarkan aku tentang masalah penjara pikiran ini, sebelum aku terseret tenggelam karena rantainya menjadi banyak dan terlalu berat. Aku bertekad mematahkan rantainya, meskipun tidak bisa langsung semuanya, akan aku patahkan satu-persatu, untuk membuktikan bahwa aku bukan gajah.
Setelah hari itu, aku bertekad untuk lulus di setiap ujian ataupun try out, aku pikir itu caranya untuk mematahkan rantai-rantai pikiran ini. Aku harus lulus di try out ini, aku harus lulus di ujian ini, aku harus buktikan kalau aku bukan gajah.!! Lalu… apa yang terjadi??
Aku tidak lulus try out… (mhuahahaha..) Aaaaaaaaa…. Aku kaget. Apa ini? Apa ini? Dimana keajaiban berpikir positif yang terkenal itu? Bukannya perasaanku sudah positif sekali? Apakah ada kesalahan pada sistem? Ah, sistem ini bukannya Tuhan yg buat? Kenapa bisa salah? Sungguh-sungguh aku terheran-heran…
Dan teman-teman, kenapa aku tidak lulus try out? ah,, jawabannya sungguh mengerikan. Karena nilai fisikaku 3!! ya.. mengerikan.. ujian negara sekitar 3 minggu lagi, dan nilai fisikaku 3? Apa jadinya jika tinggal 2 minggu lagi? nilai kimianya 2? oh oh oh…. jika ada waktu paling tepat untuk memasang seribu rantai pikiran, inilah saatnya!!
Tapi, aku bukan gajah! Dan ibuku dan ayahku bukan gajah! Jadi sebagai manusia yg berpikir, kami, termasuk aku (walaupun nilai fisikaku 3), memikirkan cara untuk maju! haha. Kami mencari orang, orang pintar, yang bisa mengajari aku fisika… Itu 3 minggu menjelang ujian negara, ibuku mulai mencari, ternyata di tempat-tempat yg beliau kunjungi, guru fisikanya sudah habis, ludes, tak bersisa tak punya waktu lagi untuk satu lagi anak kurang beruntung seperti aku di negara ini.
Tapi hidup ini tak lepas dari penawaran-penawaran menarik kan? Jadi, tentu saja, ibuku ditawari penawaran menarik oleh temannya, seorang guru fisika perempuan yg penyabar katanya. oh… tentu saja tawaran ini diberi anggukan yg dalam. Ini seperti kiriman langsung tunai dari Tuhan. Dengan seribu hadiah menarik didalamnya. Pertama, dia perempuan, yg mengakibatkan keuntungan kedua, yaitu bisa belajar dimana saja, termasuk dikamar, dan keuntungan ketiga, yaitu aku bisa pakai baju apa saja yang gimana saja! Dan keuntungan keempat, yg sedikit terlalu naif, yaitu kami kan nanti bisa bersahabat! mhuahahahahahahahahahahahahaha.
Jumat, minggu ketiga menjelang UAN, si perempuan yang aku dan ibuku kira dewi penolong ini datang. Pelajaran pertama. hmm.. apa ya.. Jangan belajar dengan dia? Yeah. Itu pelajaran pertamanya, dan terakhir.
Senin, 2 Minggu menjelang UAN. Aku paniiik.. sangat paniiik.. Bagaimana nasibku kelak? Bagaimana UAN? Bagaimana Fisika? Akhirnya, aku, ditemani seorang sepupu yg baik, memutuskan mencari sendiri si dewa atau dewi penolong berwujud guru fisika tersebut. Dapat! Dapat! senaaaaaaaaaaaaaaaang… Tapi berbekal pengalaman buruk dengan mba yg penyabar itu, aku cuma membayar untuk belajar sehari dengan dewa yang ini.
Selasa, dia datang untuk pertama kali ke rumah aku. Dan berhasil membuat aku jatuh cinta, pada fisika. heheh. jadi kami teruskan hubungan ini sampai cobaan berat dari negara datang.
Minggu, seminggu menjelang UAN, ada Ujian masuk UGM, tempat yang sama yg menolakku di hari Bapak Kepsek cerita gajah-gajahan itu. Hasilnya? Bisa dilihat tanggal 7 juni. Hari yang sama dengan Ujian masuk Bersama, tapi aku putuskan untuk melihatnya tanggal 8 setelah ujian, yang ternyata keputusan yg tepat karena aku DITOLAK lagi!
Tapi aku sudah sedikit agak kebal melihat penolakan yang satu ini. Tapi tenang saja! Aku bukan gajah!!!
Sabtu, 14 Juni, pengumuman UAN. Aku LULUS! Dan semua teman-temanku LULUS!Nilai fisika ku 75!!! Alhamdulillah… Terimakasih tuhan telah mengirimkan aku guru fisika yang baik hati, dan pintar! banget. Beberapa rantai pikiran terputus.
Sabtu, 21 Juni, pukul 18.00. Aku sudah siap nangis. Aku sudah beli formulir untuk ikut ujian lagi. Aku masih datang les untuk persiapan ujian itu. Yah, bisa dilihat, itu adalah efek dari rantai pikiran. Aku merasa sudah tahu jawabannya. Eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh… Tapi tidak. Tidak. Beneran. Tuhan tidak pernah mengijinkan aku untuk jadi sok tahu. Untuk pertama kalinya, tidak ada kata maaf pada layar. Tidak ada kata maaf nama anda tidak terdaftar. Maaf anda tidak lolos. Maaf anda kurang cerdas. Maaf anda kurang beruntung. Maaf yang tidak membantu apa-apa itu. Alhamdulillah, Aku lolos. Aku masuk UI……. hihihihi. Beberapa rantai pikiran terputus lagi.
Kamis, 26 Juni, pagi-pagi. Ibu dan Ayahku sudah minta nomer tes ku untuk ngecek UNPAD. Tapi aku tidak berani. Nanti aja deh aku ssc aja dulu, nanti aku lihat sama temen-temen. Haha, ternyata rantai pikirannya masih ada dan bekerja. Teman-teman mulai mendesak aku untuk mengecek hasilnya. Aku cek lewat sms, tak terbalas. Aku mulai merasa hasilnya akan menyakitkan. Mereka minta aku cek lewat internet. Hehe.. Enter ditekan, layar berkedip, aaaaaaaaa…. Aku kaget. Kaget yg lebih menyenangkan daripada kaget tidak lulus try out. Alhamdulillah, Beberapa rantai pikiran terputus lagi, kepalaku sudah ringan sekarang.
Sekarang, coba kita telisik lagi. Ternyata nilai 3 itu tidak selalu buruk, tidak selalu jelek, dan tidak selalu bikin malu orang tua. Gagal juga begitu. Kalau aku tidak gagal dalam ujian pertama ugm, mungkin omongan pak kepsek tentang gajah tidak akan nyangkut di kepalaku, karena aku sedang tenggelam dalam perasaan gembira. Kalau nilai fisikaku tidak 3, aku tidak akan mencari mas fisika. Kalau aku tidak mencari mas fisika, aku bisa tidak lulus UAN. Karena beneran, nilai try out fisikaku tidak pernah lebih dari 45, dan soal UAN fisika itu lebih susah daripada try outnya. Kalau tidak seneng diajar ama mas fisika, Aku tidak akan daftar bimbel disitu. Kalau tidak gagal di UGM pun aku tidak akan daftar bimbel.
Tapi coba tengok, kalu aku tidak daftaar bimbel, aku tidak akan ketemu mas fisika lagi? loh? bukaan.. bukan itu saja, Aku tidak akan ketemu Iyuth, ketemu Joe, Ajreng, Ina, temen-temen lain dan guru-guru aku di ssc. Trus karena aku agak pemalas, pasti klo tidak bimbel aku tambah gendut, tidak ada alasan untuk bergerak, tidak ada alasan untuk mandi, tidak ada alasan untuk belajar, dll.
Jadi, kalau aku lihat nilai 3-ku yang waktu itu sekarang, aku senang sekali dan sangat bersyukur. hehe. Saking bersyukurnya itulah, aku mengungkapkan kisah nilai 3 ini kepada kalian. Karena mungkin nilai 3 ku yang bikin malu itu, bisa jadi semangat buat kalian yg sedang dan akan menempuh ujian. Kalian jangan mau dipenjarakan sama pikirran kalian sendiri.
Yang kita anggap kegagalan itu, adalah suatu izin dari tuhan untuk mendapatkan sesuatu yang lain, yang tidak kita bayangkan dan harapkan tapi lebih baik untuk kita. amin.
Waktu Untukmu!
June 24th, 2008 by aku-nisaTik. Satu pesan diterima. Pesan singkat yang panjang. Pesan yang bertele-tele, hanya untuk meminta waktu. Hujan katamu, hujan menyita waktumu. Baiklah, aku bilang, tak ada pilihan lain lagipula.
Tik. Satu pesan lagi, darimu. Aku baik, katamu. Aih, aih… Aku beri kamu waktu 20 menit dan tiba-tiba aku jadi orang baik, mudah sekali sih jadi orang baik?
20 menit yang kamu minta itu, ujung-ujungnya kembali padaku juga. Kenapa harus bilang untuk sesuatu sekecil itu saat aku sudah meminta lebih dari 24 jam penuh milikmu? Malah kamu beri lebih.
Aku mau ganti. Pikirku.
Aku ganti waktumu. Waktu istirahat yang aku rampas. Aku ingin ganti semuanya.
Kamu tersenyum setiap saat. Saat hujan, saat cerah, saat matahari beranak 4, dan saat-saat lain yg tak terhitung. Senyum itu menyenangkan, menyenangkan sekali, senyum yang minta ditatap lagi. Tapi aku tidak mau.
Berhenti! jangan senyum-senyum begitu… Bagiku, senyum itu seperti berkata, kamu tak akan bisa ganti semua yang sudah aku kasih! Tak akan bisa ganti waktuku.. Sudah, semuanya sudah buat kamu.
Aku bisa. Aku pasti bisa menggantinya setelah aku bisa mencurinya. huaha. Sebenarnya aku tidak mencuri, aku hanya membuatmu memberikannya padaku. Ya kan?
Jadi aku berdiri di sini, menatap laki-laki yg matanya tertutup sebelah oleh rambutnya. Dia tersenyum.
Senyum yang berbeda dari milikmu, lebih tidak enak tapi mau tak mau harus aku balas. Aku ingin sesuatu darinya.
Laki-laki ini, yang senyumnya tidak lebih enak dari milikmu, akan menjual waktunya padaku. Waktu yang nanti akan aku beri untukmu. Entah mengapa dia bisnis seperti ini, tapi sepertinya bosnya adalah seorang pemalas yang punya banyak waktu yang tidak bisa digunakan, atau dia tidak memerlukannya.
Hmm… Tapi Aku tidak punya apa-apa untuk membayarnya. Bagaimana bisa punya apa-apa, saat pertama bertemu denganmu, aku bahkan hampir-hampir tidak punya otak. Tapi sepertinya mas penjual waktu yg berponi asik ini bisa diajak bernegosiasi. Jadi aku coba.
Dapat! Aku dapat waktunya!!
Aku bisa ganti rugi milikmu sekarang.
Aku tersenyum dan mengucap terimakasih. Hening, tidak kudengar apa-apa tapi aku yakin sudah terucap. Mas penjual waktu tersenyum lebih lebar lagi, senyum lebar yang jahat, lalu dia mengucapkan sesuatu yg sudah pasti dia tau aku tidak bisa mendengarnya. Dasar jahat, tapi aku tetap tersenyum, tidak apa-apa, ini buat kamu. Aduh, aku bahkan tak bisa mendengar pikiranku sendiri.
Jadi aku keluar dengan waktu ditanganku, yg harus cepat aku sampaikan padamu sebelum dicuri para pencuri waktu yang terkenal itu. Waktu untukmu, aku tukarkan dengan riuh rendah hiruk pikuk duniaku. Tak bisa kudengar apa-apa lagi, bahkan para pembicara di kepalaku yg suka mengusik dan membuatku gila pun tak dapat membisikkan apa-apa lagi.
Entah mereka jadi bisu atau mas penjual waktu itu sudah menukar seluruh pendengaranku…
Tak apa-apa… ini buat kamu!!!!
“I want to thank you for saving my life, I’ll be eternally grateful to you”
NB: buat orang-orang yg telah memberi waktunya untukku pada umumnya dan guru-guruku pada umum agak ke khususnya dan untuk mas yg membuat fisika aku jadi 75 pada khususnya!! hehehehehe..
Bener, ga bisa aku ganti waktu kalian..
Stopped.
February 24th, 2008 by aku-nisaEverybody has a nightmare. That’s why we have that word. However, it doesn’t mean we have to use it everytime. For me, all the thing about nightmare had stop. Yes, right, stopped. It’s not my story about it which is stopped, or I stopped remember about this. The one which is stop coming is my nightmare. I don’t know why and I don’t know how. I just wake up and I realize that I dont have any nightmare anymore. Sometimes, there’s just a weird dream. It’s only weird, doesnt scared me out of my wit. (?? forget the phrase, I think that’s wrong.haha) Last night, there’s a monkey bites my hand. I said, ouch, and that’s it. My hand is bleeding, but that wasn’t a nightmare. I didn’t scream or wake up or anything. That nightmare sensation wasn’t here anymore.
They still coming, for sure. That people in my dream. In different characters everynight but I can recognize them as the same thing that came the night before, it’s only them.
I held a girl, a very little girl. I let her sit in my lap. Then I saw her eyes. I know that eyes. I know that girl! It’s her.. that girl. (you know, she appeared in a story I wrote) So I put off my veil an tied her up (thank you for my friend or something that came the night before and teach me how to do that, and tied the boy). I don’t care what’s others talk about me, I know that’s only a dream. The crowd, all the people there,wasn’t exist. This girl, however, is exist and will always come to me if I didn’t do that. Maybe that’s one of the reasons my nightmares stop coming.
I scared my nightmare away.
Best Seller
January 29th, 2008 by aku-nisaBest-seller. terlaris? Sepertinya ada yang salah dengan kata itu. Setidaknya, penggunaannya disalahgunakan. Buku-buku di toku buku diberi label itu. Orang-orang membelinya.
Dari situ saja sudah salah. Itu hanya buku terlaris, teman-teman.. Dengan berbagai embel-embel,terjual ratusan ribu kopi, dibaca lebih dari 8 juta orang, digemari di seluruh dunia. Pernahkah kalian berpikir, bahwa 8 juta orang itu membaca buku yang salah? Pernahkah kalian berpikir apa perasaan mereka setelah membaca buku itu? Menyesal? mungkin. Merasa tertipu? mungkin.
Orang-orang itu hanya membelinya. Siapa yang bilang mereka membacanya? Lagipula, kamu punya sebuah buku, buku itu jelek sekali, mengingat ide ceritanya saja bisa membuatmu muak. Lalu kamu meminjamkannya pada teman-teman sekelasmu, atau memberikannya pada orang lain. Mereka membacanya. Saat buku itu kembali, apakah akan menjadi lebih bagus?
Kamu tahu jawabannya. Seperti itulah, sebanyak apapun orang yang membacanya, tidak akan membuat sebuah buku menjadi lebih baik. Orang-orang itu, bisa saja membaca buku yang salah. Dan dengan begitu, mereka akan membuat buku itu tampak lebih laris, sehingga orang lain tertarik lagi membelinya, dan penerbitnya bisa menerbitkan buku itu lagi dengan label depan yang berbeda. lebih dari 10 juta orang membacanya. berlanjut seperti itu terus.
Ini lingkaran setan yang menyesatkan.
Jangan membaca sebuah buku karena buku itu dinilai baik oleh masyarakat. Kamu bisa memberi pandangan lain, kamu individu yang berbeda dalam sebuah masyarakat. Seleramu tak harus menyerupai semua orang. Bagaimana kalau ternyata kamu spesial?
Jika pandangan masyarakat salah, buku yang mereka baca salah, sadarkan mereka. Jangan mengubah dirimu karena kamu merasa menjadi karakter yg salah ditengah-tengah semua orang yang benar. Berbeda bukan sama dengan salah.
Best seller bukan prestasi yang berarti. Bisa terjual banyak karena promosi yg menipu, orang-orang yang membacanya tertipu dan kemudian menipu orang lain lagi. Bahkan bisa saja seorang pimpinan perusahaan yang amat besar mewajibkan bawahannya untuk membeli buku yang sama. otomatis buku itu menjadi laris. Banyak alasan untuk menjadi laris.
Sebuah buku akan lebih berarti jika dilabeli, buku terbaik, buku paling berguna, buku paling menarik, buku terkreatif, ide cerita terbaik. Itu urusannya dengan buku dan isinya.
Buku terlaris? itu urusan buku dengan harganya.
NB: Stop membaca buku jelek…
Surat Untuk Mereka yang Masih Punya Nenek
November 29th, 2007 by aku-nisaAku baru saja membaca sebuah buku. Tentang seorang kakek yang hidupnya terlalu panjang sampai bisa mengajarkan hal-hal yang berarti pada dunia. Proses kematiannya diliput televisi hingga tiga kali. Dikirimi surat oleh ratusan orang. Mengajar hingga akhir. Seperti menyempatkan hidup lebih lama untuk membalas surat dari orang-orang yang bermasalah, membantu mereka menghindari kematian yang disengaja. Meminta seseorang untuk mengabadikannya, agar orang lain bisa mengenalnya. Namanya kakek Morrie.
Memang ada orang-orang seperti itu. keren.
Tapi ada kakek yang terlalu cepat pergi. Belum sempat mengajarkan apapun pada cucunya. Melirik pun tidak sempat. Sedikit saja.. lebih lama lagi. Sepertinya Tuhan tidak rela memperlihatkan wajah kakek itu pada cucunya. Mungkinkah? Memangnya benar Tuhan melakukan hal-hal seperti itu? Benar! Padamu? Ya, padaku. Itu sebabnya saat kamu berkunjung ke rumahku, aku tidak bisa berkata, “Perkenalkan, ini kakekku!”, dan membuatmu iri karena aku punya kakek yang baik, yang senyumnya bisa membuatmu senang, yang menanyakan kabarmu, yang melakukan hal-hal yang biasa para kakek lakukan. Aku tidak bisa.
“Tuhan bertindak berlebihan,” kata kakek Morrie. Mungkin saja.
Tapi tidak, tidak terlalu berlebihan.Tuhan masih tinggalkan aku nenek. Nenek-nenek yang baik, dan sakit. Tapi aku tidak melakukan apa-apa. Tidak memeluk nenek yang menungguku setiap liburan. Tidak berrterimakasih pada nenek yang menyembunyikan ciki di bawah tempat tidurnya untuk cucunya. Tidak selalu tersenyum saat dia sakit. Tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang kehidupanku. Saat mereka masih hidup, aku merasa, dan bertindak, sekan-akan kami datang dari dunia yang berbeda. Begitu berbedanya sampai aku tidak mengerti yang dia bicarakan, dan dia tidak mengerti yang aku bicarakan. Sebenarnya aku tidak yakin apakah kami pernah benar-benar bicara.
Tiba-tiba saja, mereka tidak ada. Tiba-tiba saja, saat Lebaran aku datang ke rumahnya dan kamarnya sudah ditempati orang. Orang yang tidak aku kenal. Mungkin, dulu pun aku tidak kenal nenekku. Tapi aku tidak pernah berharap ada orang lain yang menggantikan tempatnya.
Mungkin sebenarnya tidak tiba-tiba saja. Hanya saja saat proses itu berjalan perlahan-lahan dan memberi aku kesempatan untuk mengenalnya, aku tidak perduli. Yang tiba-tiba saja adalah, tiba-tiba saja aku ingin memeluknya., tidak pernah Tuhan beri aku keinginan ini selagi mereka masih hidup. Itu yang namanya tiba-tiba saja.
Aku memang tidak tahu rasanya punya kake, atau rasanya masih punya nenek. Tapi aku tahu sesuatu yang tidak diketahui oleh mereka yang masih punya nenek dan kakek. Aku tahu rasanya kehilangan nenek. Dan mungkin itu senjata ampuh untuk membuat seorang cucu menyayangi neneknya.
Terimakasih sekaliiiii!!!!
November 16th, 2007 by aku-nisaAkhirnya tugas yang membikin diri sendiri dan dunia sekitar heboh telah berakhir.. aku senang! Meskipun belum sepenuhnya berakhir, tapi ya uda sidang tinggal revisi sedikit lalu di hard cover deh!! Sekarang sudah lega, tidak ada beban berat pengganjal hidup lagi. huaha.
Sekarang mau mohon maaf kalau sudah merepotkan yaaa… walopun sepertinya uda sering ngomong tapi ini klimaksnya nii. heheh.
Aku juga mau terimakasih juga ke semuanya. KAlo aku kirimin satu-satu kan ribet.. dan belom tentu semuanya kebagian… jadi disini aja. okeh?! Lagian,, itung-itung biar dunia tahu teman macam apa kamu itu.. heheh.. Selain temen-temen sekolah ama bu guruguru yang senang membantu saia… ada teman-teman dari berbagai macam jenis dan golongan..(???) yang turut berpartisipasi dalam pembuatan karya ilmiah ini..
Dan yang demikian itu adalah:
mboteng, ya… orang yg klo memperkenalkan dirinya sebagai febby. tapi anda harus tahu siapa dia sebenarnya,, haha.. dia pernah muncul loh dalam sebuah cerita di blog ini. tapi namanya dirahasiakan. terimakasih yawh sudah memberikan doa-doa yg agak aneh dan sarkatis ituh. biarkanlah, yang penting berguna..walopun… haha. trus terimaksi ama nisajuga temennya mboteng yg ikutan ngasi semangat dengan kalimat yang lebih cerdas..
nadhila juga terimakasih yawh… katanya pengen namanya disebut. uda aku sebut tuu.. hehe..
terimakasih juga buat Enggar, Faris, trus Riniiyy, yang nemenin juga buatin karya ilmiah ini. hueheh. enggar yang jago ngasih semangaaat..trus faris yang nemenin ngobrol klo aku lagi berputus asa membuat inih… menunggu waktu sidang.. aku sudah bukan si penunggu sidang lagi. sudah aku lewati tuh. Riniy yg cerita juga pas dia buat karya ilmiah. haha,.. ternyata bukan sekolahku aja yg rajin menyuruh anak-anak memaksa diri sendiri agar rajin. uuh..
Terus terimakasih juga buat Mba Hana dan Mas Difal. Mba Hana yang sudah mengajarkan aku mengutip, dan menerjemahkan BP. meskipun sampe sekarang aku belum tahu enaknya menerjemahkan BP ke Bahasa Indonesia itu bagaimana. deng..deng.. Mas Difal yang nemenin dari awaaaaaal banget baru nulis judul. haha. Membuat segaalanya tampak lebih mudah,, jadi aku mau ngerjain. ternyata susah tauk..tapi tak apa-apa.. sudah selesai kok. Dua orang ini nih, yang kalo dipikir-pikir, ada dari awal sampe akhir. Dari awal baru nulis judul, sampe hari jumat jam setengah satu pas aku nyelesain karya ilmiahnya.
Dari bilang ayo kerjain, gampang kok. gini trus gini trus gini trus selese deh. sampe bilang selamat saudariku! haha.
Yah walopun penuh tantangan, dihadang kemalasan, keterbatasan berbahasa, dan lain-lain. Kalo dipikir-pikir seru kook. apalagi klo uda slese. Hahaha.
Kerjakanlah tugas-tugasmu sebelum mereka berkumpul menjadi terlalu banyak dan mulai mengerjaimu!
sekali lagi … terimakasih sangaaaaaat!!!!
Kepercayaan
November 11th, 2007 by aku-nisaIni adalah sebuah kisah tentang dua orang teman baik. Sebut saja mereka S dan R. Dalam hal menjalani hidup, R sudah jauh lebih mahir daripada S. Entah mengapa mereka bisa berteman, tapi berteman dengan orang memang tidak selalu memandang umur, atau derajat. Orang-orang seperti S dan R ini, berteman karena hanya dengan melihat ke dalam diri masing-masing, mereka bisa melihat seorang teman baik.
Suatu saat S diguncang sebuah masalah yang memberatkan hatinya. Menghilangkan hampir seluruh semangat yang ada dalam dirinya. Tapi masalah tidak datang dengan sendirinya, pasti ada yang mengantarkannya, biasanya kita menyebutnya pembawa masalah. Tapi kali ini, aku lebih senang menyebutnya K. Karena dia tidak selalu membawa masalah, kadang-kadang K bisa membuat S sangat senang bahkan terkadang lupa akan keberadaan R,teman baiknya.
Saat ini R sedang melakukan tugas seorang teman baik, memberi semangat. S ada di rumahnya, wajahnya begitu murung, diselubungi kepedihan yang mendalam. Menyurutkan semangat R untuk menghiburnya, dia tidak yakin akan kemampuannya. Tapi dia harus mencoba kalau tidak mau jabatan “teman baik” itu hilang dari tangannya.
Mereka duduk berhadapan di depan sebuah meja kayu. Setelah segala upaya untuk memberi semangat, segala ceramah tentang di setiap manusia ada sisi baik sisi buruk, harus bisa memaafkan orang lain, mungkin itu dosa yang tidak disengaja, sampai pengakuan R tentang memang dia tidak begitu menyukai K dari awal , tidak ada yang berhasil mengembalikan semangat S walau sedikit saja.
Disaat R sudah kehilangan cara, S mulai bicara. “Kamu tahu yang sudah K perbuat pada hatiku?”, dia mengambil sebuah pisau dan mulai menggambar garis di meja kayunya. berulang kali ditempat yang sama, sampai garis itu menjadi begitu jelas dan dalam dengan banyak serpihan kayu disisi-sisinya. “Seperti ini.” dia menunjuk ke garis itu. “aku tahu yang kamu pikirkan, R. Aku bisa menggunakan serpihan kayu ini untuk menutup garis itu. tapi lihat..” Lalu S mulai mencoba menutup garis yang dibuatnya dengan serpihan-serpihan kayu yang ada. Memadatkannya sampai garis itu tidak ada lagi. kemudian dia mengambil sebuah tusuk gigi, dan dengan mudah membuka lagi garis itu.
“Sekarang kita tidak butuh alat setajam pisau untuk membuka garis itu lagi. Akan menjadi lebih mudah bagi K untuk menyakitiku.” R terdiam, dia tidak pernah membayangkan hal yang menimpa sahabatnya, sekarang tergambar jelas didepannya, seperti itu.”Itulah mengapa Tuhan memberi manusia ide untuk membuat taplak meja.” akhirnya R berkata dengan santainya. “Ya, tapi kalau seseorang membukanya cela itu akan nampak lagi. lagipula tidak ada perlindungan seperti itu untuk hati manusia.” S menjawab dengan tidak sabar.
“Tentu saja ada, bahkan sangat terkenal, setiap hari digembor-gemborkan orang-orang, para penyair, orangtua, bahkan mafia! Kepercayaan!! itu taplak meja untuk hatimu.” S menatap tidak mengerti, dalam pandangannya, jika sesorang mau melakukan hal yang tadi dia lakukan pada mejanya, maka taplak meja bukanlah perlindungan yang sempurna. “Jika kamu memegang sebuah pisau, duduk didepan sebuah meja, dan taplak mejanya begitu cantik, pasti tidak ada pikiran untuk merusak mejanya kan?” cukup masuk akal, pikir S.
“Sekarang lihat aku S, aku disini, sudah ribuan kali kamu cela. Kamu bilang pekerjaanku berantakan, aku ini ceroboh, gendut, jelek,bodoh, gila, pemalas, dan lain-lain. Tapi aku tidak terluka kan? Setelah kamu mengatakan itu, aku tidak lantas duduk didepan sebuah meja dan diam saja kan? Itu karena aku punya kepercayaan padamu, aku percaya kalau kata-katamu tadi tidak dimaksudkan untuk menyakiti hatiku. Aku percaya kalau kamu tidak akan melakukan itu padaku.Itu hanya candaan untuk membuatku menjadi lebih baik.” Ini lebih masuk akal lagi, S bergumam dalam hatinya.
“Baiklah, aku mengerti. Tapi sepertinya aku punya kepercayaan itu kepadamu, tapi tidak kepada K. kenapa?” Ini pertanyaan yang sulit, R berpikir keras. “Hatimu begitu besar, kamu perlu banyak taplak meja untuk menyelimutinya. Kamu baru saja bertemu dengan K, jadi mungkin belum kamu siapkan taplak meja untuknya, kepercayaan itu belum ada, S.”
Semua itu membuat S merasa jauh lebih baik, dia berjanji akan menemui K lagi setelah menyiapkan taplak meja untuknya. Tapi mungkin kita bertanya-tanya, mengapa pada orang yang sudah kita kenal lama pun, kita tidak punya kepercayaan itu? Mudah saja, berarti orang itu memang tidak pantas diberi kepercayaan, atau kita pernah memberinya, tapi sengaja atau tidak dia menghilangkannya. Tapi untuk memaafkan, kita masih punya serpihan-serpihan kayu tadi, tergantung pada kita akhirnya. Apakah garis itu akan kita tutup dengan serpihan kayu yang tersisa? atau serpihan kayu itu kita buang saja, yang artinya tidak ada kesempatan lagi?
“Hidupmu dan hidupku sama saja, selalu banyak pilihan, itulah mengapa aku tidak mau bertukar posisi denganmu….”
_choiRunniSa_
Aku dan Temanku
October 27th, 2007 by aku-nisaAda teman yang selalu bisa membuat aku tertawa, karena hal apapun, percakapan kami, percakapan aku dengan mereka, akan selalu menjadi hal yang menarik. Satu hal yang sangat aku tunggu untuk mengisi hari-hariku, bahkan untuk menggangguku di setiap kesibukanku.
Ada teman yang selalu bisa membuatku bahagia. Tanpa alasan. Karena saat aku bertemu dengannya, seakan-akan bahagia memang tidak butuh alasan yang jelas. Karena aku memiliki teman-teman seperti inilah, aku tidak pernah mencari-cari alasan untuk bahagia.
Ada teman yang selalu mau mengajari aku segala hal, agar aku lebih mahir dalam menjalani hidupku dan bila dia tidak ada lagi untukku, aku tidak akan terlantar di dunia yang rumit ini. Dia membuatku percaya diri, aku bisa melakukan segalanya. Dan selagi dia ada, aku selalu ingin dekat dengannya karena aku ingin belajar segalanya.
Ada teman yang selalu memberiku semangat. Menjawab semua pesan yang aku tinggalkan padanya saat aku sedang sedih. Menemaniku dan memelukku lagi saat aku menangis. Namun bila aku bahagia dan lupa memeberitahunya tentang keadaanku, dia akan tahu aku baik-baik saja. Dia yakin aku akan kembali saat aku terluka lagi. Temanku yang ini selalu duduk disini, memberi hati pada si egois ini. Entah sampai kapan, aku tidak tahu bagaimana dia selalu baik-baik saja setiap saat.
Tidak ada teman yang selalu pandai membuatku menangis, aku pikir jenis itu memang tidak diciptakan di dunia ini.
Tapi tadi malam, seorang teman berhasil membuatku menangis. Dan aku tidak bisa belajar untuk menghadapinya karena yang membuatku menangis adalah yang senantiasa mengajariku segala hal. Aku tidak bisa tertawa karena dia juga yang selalu membuat aku tertawa. Menangis pun aku sendiri karena dia yang biasanya memelukku saat aku menangis adalah orang yang menyebabkan aku menangis, tidak ada lagi temanku yang selalu baik-baik saja.
Aku menangis karena seorang jahat menyakitinya. Orang yang terlalu jahat sampai tega melakukan sesuatu semacam itu. Aku rasa iblis pun tidak akan tega menyakiti temanku ini. Aku tidak menyangka kemalangan macam ini akan menimpanya.
Tenang saja teman, setelah aku selesai menangis. Aku akan melakukan sesuatu. Dan kita akan tertawa lagi bersama-sama. Aku akan membuat seseorang tidak akan merasa baik-baik saja. Bersabarlah, karena aku sudah mulai berhenti menangis.
Professor’s Robot
October 24th, 2007 by aku-nisaI was enjoying my break time in the park, when a man sat beside me. He read a book in an abnormal speed. I think it’s the fastest speed of reading I’ve ever seen. I watched him and I suddenly realized something, He didn’t wink at all. It’s too strange, as a journalist, I had a desire to find out who is he. I though it would be the next headline news.
Unexpectedly, he stopped reading. “Hello, miss. Can I help you?”, he asked me. ”Oh , hi. I don’t mean to disturb you but I just wonder How can you read very fast? but if you don’t want to answer, it just ok. I’m sorry.” I was ashamed that he realized I’m looking at him so I speak very fast and I want to leave as soon as possible.
I was waiting as he smiled at me and answered my question. “Of course I can, I’m a robot.” That was the silliest answer I’ve ever heard. He must be crazy. or joking? I took it as a joke and I laughed. He stopped smiling and asked me, “ Is that funny? Because I’m not making jokes.” I stopped laughing because he sounds very serious and I thought it may be true, it’s 2017. Robot is an usual thing. However, He’s really look like a human and he is handsome. The other robot I knew look like a can.
“Ok, I’ll believe you if you tell me your story.” I turned on my recorder after I said that. This is his story:
“Because you asked me, I’ll do as your order. A professor has made me, I can’t tell you his name because it’s a secret. He asked me to keep it before he died. He was already 64 when he made me. And he is sick, cancer disease which mean he wouldn’t leave any longer in this world and he know it. The problem is, he has a son who’s only 7 years old at that time. His wife passed away when his birth.
Professor afraid his son will be lonely. as a professor, of course he can clone himself, but he didn’t want to do that. He want to teach his son a lot of things, and one of the lesson is he have to accept death. And he knew even though he cloned himself, the one who’ll live together with his son isn’t him. So he made me. Not to take his place, but to be a teacher and a brother to his son. He gave me all the things he knows.
It’s like he gave his brain to me. And he taught me every expression. It make his son can accept me as a brother. He grew up very well in my hand. The smartest boy I’ve ever seen. I can remember all the time we had spent together. That’s my story.”
It’s strange to hear an amazing story like that being told without any emotions. He just smiled all the time. “Where’s your brother now? Is he working ? where ?” I can’t wait to find out. may be I can interview the kid who grew up in a machine hand. It’ll be great. “He’s dead. Last month. Death punishment because of killed people.” that robot said that with a smile. “That professor gave me his knowledge. But he didn’t gave me emotions and heart. His kid grew up without heart. I couldn’t teach him something that I don’t have. That’s his mistake.” That’s the most precious lesson I can get from all of my interviews. A kid can’t grow up without a heart.
I said thanks to that robot and went home. From what I heard, that robot only can show smile now because his brother or professor’s son took his ability to show other expression. I can understand that because if that robot could show fear it would be easier to police to catch him.
NB: pe er bahasa inggris yang dikerjakan dengan terburu-buru sangat. tapi tidak cukup buruk untuk mendapat nilai merah. hehehehee.